Sungai Terpanjang Kedua di Amerika Selatan Kering, Apa Penyebabnya?

Sungai Terpanjang Kedua di Amerika Selatan Kering, Apa Penyebabnya? – Sungai terpanjang di Amerika Selatan, Parana, mengalami kekeringan, sehingga membuat para pecinta lingkungan dan pakar kebingungan. Kondisi ini berpengaruh terhadap pelayaran niaga, pembangkit listrik, perikanan, pariwisata, serta penyediaan air minum dan irigasi. Efek mengeringnya Sungai Parana bahkan meluas ke perubahan topografi, tanah, dan komposisi mineral air sungai. Para ahli bingung apakah ini adalah bagian dari siklus alam atau karena dampak dari perubahan iklim. Parana terhubung dengan akuifer Guarani, salah satu sumber air tawar bawah laut terbesar di dunia.

Sungai itu membentang lebih dari 4.000 kilometer melalui Brazil, Paraguay, dan Argentina. Parana menyatu dengan sungai Paraguay dan Uruguay, membentuk Rio de la Plata sebelum bermuara ke Samudra Atlantik. Sepanjang jalan, Sungai Parana terbagi menjadi beberapa anak sungai dan membentuk lahan basah Delta Parana di Argentina, serta memberi makan banyak dataran pertanian. “Parana adalah lahan basah sosio-produktif terbesar, paling beragam dan paling penting di Argentina,” kata ahli geologi National University of the Littoral, Carlos Ramonell.

“Orang-orang menyebut bendungan Brazil, penggundulan hutan, dan perubahan iklim sebagai penyebab, tetapi dari sudut pandang ilmiah kami tidak dapat mengatakannya. Jelas karena kurangnya hujan, tetapi apa yang memprovokasi itu?” lanjut dia. Bagi Paraguay dan Bolivia yang terkurung oleh daratan, Parana sangat penting untuk perdagangan. Sekitar 4.000 kapal tongkang, 350 kapal tunda, dan 100 pengangkut peti kemas menunggu hingga permukaan sungai naik. Sayangnya, musim hujan diprediksi masih tiga bulan lagi.

Pada Mei 2021, Brazil secara luar biasa membuka bendungannya untuk memungkinkan ratusan tongkang lewat ke hilir, tetapi permukaan sungai sejak itu turun terlalu rendah. Ekspor kedelai Bolivia dan impor juga sangat terpengaruh. Dampak luar biasa Laju aliran rata-rata Parana adalah 17.000 meter kubik per detik. Namun, angka ini telah turun menjadi hanya 6.200, hampir di atas rekor terendah 5.800 yang tercatat pada 1944. Hal itu telah mengurangi pembangkit listrik tenaga air Yacyreta yang membentang di sungai Parana antara Argentina dan Paraguay.

Pembangkit ini bahkan memasok 14 persen listrik Argentina. “Tahun lalu kami pikir kami akan mencapai titik terendah tetapi tahun ini menjadi lebih buruk,” kata Marcelo Cardinali, seorang manajer di pabrik. Tidak hanya itu, tingkat air yang rendah juga memengaruhi kemampuan ikan untuk berkembang biak, membuat sungai terputus dari sungai utama oleh gundukan pasir, dan menghalangi laguna tempat mereka biasanya bertelur.

Sungai-sungai yang mengering telah memperlihatkan tumpukan sampah sementara ternak mulai merumput di rumput liar yang muncul di dasar laguna kosong. “Dengan turunnya permukaan air, semua bahan kimia terkonsentrasi di pantai,” kata seorang penduduk bernama Ana Pirkas. “Ketika air kembali, ikan yang menyedot lumpur akan mati. Kita akan melihat dampak yang sangat besar,” ujar Ana.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*