Mengenal Varian Covid-19 R.1, Mutasi Baru Virus Corona, Lebih Bahaya?

Mengenal Varian Covid-19 R.1, Mutasi Baru Virus Corona, Lebih Bahaya? – Virus corona varian R.1 tengah menjadi perhatian peneliti di Amerika Serikat. Pusat Pencegahan dan Pengendalian Penyakit (CDC) AS telah melaporkan bahwa varian R.1 terkait dengan wabah yang terjadi di sebuah panti jompo di Kentucky pada Maret 2021. Selama wabah yang terjadi di panti jompo Kentucky, 46 kasus Covid-19 teridentifikasi pada 26 penghuni, yang 18 di antaranya divaksinasi penuh, dan 20 petugas kesehatan, yang empat di antaranya divaksinasi.

Tingkat infeksi pada penghuni yang tidak divaksinasi tiga kali lebih tinggi dari pada penduduk yang divaksinasi. Sedangkan, pada petugas kesehatan yang tidak divaksinasi, tingkat infeksi adalah 4,1 kali lebih tinggi dari pada petugas kesehatan yang divaksinasi. Tiga penghuni panti jompo meninggal, termasuk dua yang tidak divaksinasi. Kendati demikian, CDC AS belum menetapkan varian R.1 sebagai variant of concern (VoC) atau variant of interest (VoI).

Karakteristik varian R.1 CDC menyebutkan bahwa varian R.1 memiliki beberapa karakteristik mutasi penting, seperti peningkatan penularan virus, berkurangnya efektivitas terapi konvalesen dan pasca-vaksinasi, serta potensi untuk mengurangi efektivitas antibodi penawar. Meski vaksinasi dikaitkan dengan penurunan kemungkinan penularan dan penyakit yang bergejala, 25,4 persen dari penghuni panti jompo yang telah divaksinasi dan 7,1 persen perawat yang telah divaksinasi masih tetap terinfeksi.

Data yang diperoleh dari wabah di panti jompo Kentucky itu memicu kekhawatiran akan adanya potensi kekebalan pelindung yang berkurang terhadap varian R.1. Tercatat ada empat kasus yang teridentifikasi sebagai kemungkinan infeksi ulang. Hal ini mengisyaratkan adanya kekebalan alami yang terbatas atau memudar terhadap varian R.1. Varian R.1 dari SARS-CoV-2 penyebab Covid-19, bukanlah hal baru.

Mutasi yang menghasilkan varian tersebut pertama kali terdeteksi di Jepang tahun lalu, dan sejak itu menyebar ke negara lain, termasuk AS. Ketika Departemen Kesehatan Kentucky dan departemen kesehatan setempat menyelidiki wabah Covid-19 pada pasien yang divaksinasi, mereka menemukan varian R.1 saat melakukan pengurutan genom. Sejauh ini, varian R.1 telah terdeteksi di 47 negara bagian AS dan dikaitkan dengan 2.259 kasus konfirmasi positif Covid-19.

Menurut Amesh A. Adalja, MD, peneliti senior di Johns Hopkins Bloomberg School of Public Health’s Center for Health Security, varian R.1 merupakan versi virus SARS-CoV-2 yang mengalami mutasi terkait dengan perubahan fungsi dari virus. Dengan kata lain, seperti halnya strain baru, R.1 dapat mempengaruhi orang secara berbeda dari virus versi asli. Adalja mengatakan, identifikasi strain baru tidak harus disikapi dengan panik.

Kendati varian baru apa pun dapat menimbulkan ancaman, Adalja menilai, kecil kemungkinan varian R.1 akan menyalip varian Delta sebagai mutasi virus SARS-Cov-2 yang paling parah. “Saya tidak menduga itu akan menjadi masalah besar karena tidak memiliki kemampuan untuk menggantikan Delta. Sangat sulit bagi jenis mutasi ini untuk mendapatkan pijakan di negara yang memiliki varian Delta,” kata Adalja.

Kemungkinan tidak separah Delta Meski Adalja tidak mengharapkan gejala yang berbeda dari jenis ini, dia mengatakan hal itu berpotensi mempengaruhi lebih banyak orang yang divaksinasi terhadap Covid-19. “Masalahnya adalah mutasi ini memang memiliki mutasi yang kita lihat dengan varian B dan G yang dilupakan orang,” katanya. “Itu mungkin membuat infeksi terobosan lebih umum, tetapi ini bukan tentang itu.” Seberapa merajalelanya suatu strain, Adalja menekankan, lebih berkaitan dengan transmisibilitasnya, dan, sekali lagi, sangat tidak mungkin menurunya jika varian yang satu ini akan menggantikan varian Delta.

Sejauh ini ini, varian R.1 hanya menyumbang 0,5 persen dari kasus Covid-19 di AS dan di seluruh dunia. Menurut Ramon Lorenzo Redondo, PhD, asisten profesor peneliti penyakit menular di Fakultas Kedokteran Universitas Feinberg Northwestern, mutasi R.1 yang ditemukan di AS belum diurutkan, atau diidentifikasi secara genetik. “Versi virus ini tidak pernah menyumbang lebih dari 1 persen kasus di seluruh dunia, bahkan pada puncaknya,” kata Redondo.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*