Ketua Satgas IDI Singgung Kejadian di India Karena Kerumunan Pasar Tanah Abang, –

Ketua Satgas IDI Singgung Kejadian di India Karena Kerumunan Pasar Tanah Abang, – Kerumunan pengunjung yang memadati Pasar Tanah Abang, Jakarta Pusat dan daerah lain menimbulkan kekhawatiran dari berbagai pihak. Karena kerumunan itu terjadi saat masih tingginya angka kasus penularan Covid-19 di Indonesia, sehingga dikhawatirkan dapat menimbulkan klaster penularan baru. Dari data yang dimiliki Pemerintah Provinsi DKI Jakarta, jumlah pengunjung Pasar Tanah Abang, Sabtu (1/5/2021) kemarin 85.000 orang.

Peningkatan pengunjung itu terjadi saat makin banyak warga yang ingin berbelanja kebutuhan untuk Hari Raya Idul Fitri 1442. Potensi klaster baru Ketua Satgas Covid-19 Ikatan Dokter Indonesia (IDI) Zubairi Djoerban mengatakan, terjadinya kerumunan pengunjung di Pasar Tanah Abang dan juga berbagai pusat perbelanjaan lain merupakan fenomena yang sangat mengkhawatirkan. “Karena begitu banyak masyarakat yang berkumpul di satu tempat, yang kita tahu akan amat mudah menyebabkan klaster-klaster baru infeksi, yang kemudian akan menular juga ke masyarakat yang lain,” kata Zubairi.

Meskipun demikian, di media sosial banyak masyarakat yang mengatakan bahwa timbulnya keramaian di pusat perbelanjaan bukan sepenuhnya salah masyarakat. “Belanja lebaran tidak salah tentu saja. Anjuran pemerintah untuk memperbaiki perekonomian juga tidak salah. Namun belanjanya kan tidak harus menyebabkan kerumunan,” ujar Zubairi. Zubairi mengatakan, dengan perkembangan teknologi, aktivitas belanja Lebaran di masa pandemi Covid-19 bisa dilakukan dengan lebih aman, misalnya melalui belanja online. “Tidak harus hadir untuk pesan barang, amat sangat mudah. Jadi sekarang bagaimana mendidik masyarakat agar membiasakan diri membelanjakan barang melalui handphone, melalui komunikasi media sosial,” kata Zubairi.

Zubairi mengatakan, melihat dari fenomena yang sedang terjadi di India, Indonesia memiliki potensi untuk mengalami hal yang serupa jika kerumunan masyarakat masih terus berlanjut. “Tentu saja bisa. Karena berbagai faktor yang menyebabkan India meledak itu juga ada di Indonesia. Termasuk juga kemungkinan (varian) virus India itu, B.1.617 itu sudah ada di Kanada, di Amerika, di Eropa. Jadi tidak tertutup kemungkinan sebetulnya varian yang amat mudah menyebar ini sudah ada di Indonesia,” kata Zubairi. Selain varian virus yang lebih mudah menular, Zubairi menyebutkan, ledakan kasus Covid-19 di India juga terjadi karena adanya kerumunan acara keagamaan di Sungai Gangga.

“Di kita, kita masih melihat banyak kerumunan di tempat-tempat ibadah. Di pesantren, di masjid, di gereja, dan juga sewaktu buka bersama, kemudian tarawih,” ujar Zubairi. Selain dua faktor tersebut, euforia pasca-vaksinasi juga ditengarai menjadi salah satu penyebab penularan Covid-19 di India menjadi tidak terkendali. “India itu euforianya sebenarnya tidak tepat. Karena baru sekitar 100 juta lebih sedikit yang divaksinasi. Memang itu banyak banget, namun kalau melihat dari total penduduk menjadi sedikit banget. Total penduduk India 1,3 miliar. Jadi belum ada 10 persen yang divaksinasi,” kata Zubairi.

Zubairi mengatakan, untuk mencegah terjadinya kerumunan masyarakat terus berlanjut, ada beberapa hal yang seharusnya dilakukan pemerintah. “Harus tegas pemerintah. Harus ada pendisiplinan oleh aparat negara untuk law enforcement dari peraturan yang dibikin itu. Kebijakan yang dibikin kalau tanpa pendisiplinan ya kurang banyak manfaatnya,” kata Zubairi. “Tapi juga jangan menunggu kerumunan terjadi baru dibubarkan. Saya lihat misalnya pada waktu di Tanah Abang ada pedagang kaki lima (PKL). Nah, jangan setelah PKL-nya hadir di situ baru kemudian dibubarkan, tapi lebih baik mencegah waktu PKL itu mau membuka dagangannya,” katanya melanjutkan.

Zubairi menambahkan, pendisiplinan tidak hanya harus diterapkan pada pedagang tradisional, tetapi harus juga diterapkan pada pusat-pusat perbelanjaan modern. “Demikian pula mall yang penuh. Jangan mengusir orang yang sudah ada di mall. Jadi pada waktu mau masuk mall, (pengunjung) dihitung. Kalau sudah mencapai jumlah tertentu ya distop,” kata Zubairi. Dengan cara itu, jumlah pengunjung dan waktu kunjung mall dapat dibatasi. Menurut Zubairi, akan lebih baik jika mall hanya dibuka untuk dua gelombang pengunjung saja tiap hari.

“Misalnya jam 9 sampai jam 12, kemudian setelah itu keluar. Jam 1 sampai jam 4 itu rombongan kedua. Sesudah rombongan kedua jangan dibikin rombongan ketiga, kalau bisa cukup dua kali saja,” ujar Zubairi. Zubairi mengatakan, pengaturan jumlah pengunjung dan waktu kunjung semacam itu telah terbukti berhasil mencegah terjadinya penularan virus corona. “Waktu Haji tahun 2020 itu tidak ada satupun laporan yang menyatakan ada penularan. Karena rombongannya dibikin kecil-kecil dan ketat banget, diawasi,” kata Zubairi. Zubairi berpendapat, pada dasarnya masyarakat bisa diminta untuk disiplin dan mematuhi peraturan pencegahan Covid-19, dengan catatan Pemerintah sungguh-sungguh dalam penerapannya. “Kalau kita amat sangat ketat dan aturannya jelas, dendanya jelas, konsekuensinya jelas, maka saya masih optimis sebagian besar masyarakat akan patuh,” pungkas Zubairi.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*